Subulussalam Aceh SerambiwahanaNews co
Semalam, selagi menunggu laga Piala Dunia Inggris vs Kongo, konten di sosial media mendadak rame dengan potongan video pidato Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya di forum APEKSI. Awalnya tidak ngeh, tapi karena terus muncul di beberapa akun berita, akhirnya Muhammad Syariski ketua DPP BEM-TR coba menyimak apa isinya video itu.
Melihat ‘slide APEKSI’ yang dipaparkan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, nama Kota Subulussalam dan pak Walikota diapresiasi, perihal ‘Kota dengan Laju Pertumbuhan PAD di atas 30%’. mulutnya reflek berucap “paten kali!”, tapi begitu ia meneliti bahwa data pertumbuhan PAD diambil dari periode tahun 2022-2024, spontan saja kopi dimulutnya jadi menyembur akibat menahan ketawa!
Syahrizki menyimak dengan teliti setiap kata dari Wamendagri,mem baca betul setiap slide yang muncul. Dan karena video yang beredar tidak utuh dan lengkap, dirinya mencari ke sumber utama, ketemu! yaitu link YouTube Channel Pemko Medan. (Yang penasaran boleh langsung meluncur untuk browsing)
Coba kita simak, rasa-rasa, dan berpikir secara logika. Angka grafik dengan laju pertumbuhan PAD >30% (angka grafik pada slide 75,75%) untuk sebuah kota dengan kapasitas fiskal terbatas seperti Subulussalam, memang menjadi sebuah capaian prestasi tersendiri dalam hal tata kelola Pemerintahan. Namun, yang membuat ia tersenyum miris, merasa aneh dan tergelitik untuk berkomentar ditulisan ini, karena Walikota Subulussalam, Rasyid Bancin, mengklaim prestasi ini sebagai keberhasilannya. Sungguh tidak naik ketawa!
Data tersebut berasal dari periode 2022-2024. Sementara Rasyid Bancin baru menjabat sebagai Walikota selama 1,5 tahun (dilantik Februari 2025).
"Artinya, masa kejayaan pertumbuhan PAD 75,75% itu terjadi jauh sebelum beliau duduk di kursi panas Walikota. Perilaku Rasyid ini ibarat seseorang yang mengklaim "panen raya" 3 tahun lalu, padahal ia baru saja kemarin datang ke ladang?" Ucap Rizky kamis 2 juli 2026
“Walikota dengan Jurus Panen Tanpa Menanam"
Salah satu variabel utama lonjakan PAD ini, seperti yang juga tersirat di paparan APEKSI, adalah lompatan fiskal impresif yang muncul berkat kebijakan jangka menengah pemerintah sebelumnya.
Serangkaian kebijakan di Pemerintahan masa lalu berdampak pada pertumbuhan PAD Kota Subulussalam yang mampu melampaui 30%. Hal ini didorong oleh kombinasi intensifikasi dan ekstensifikasi pajak serta retribusi daerah, meningkatnya aktivitas ekonomi terutama sektor perkebunan kelapa sawit dan perdagangan lintas wilayah, optimalisasi pengelolaan aset daerah, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta kesinambungan kebijakan fiskal dan reformasi administrasi yang telah dibangun pada periode pemerintahan sebelumnya.
Jadi, pujian itu seharusnya tertuju pada tim perencana dan eksekutor di periode 2022-2024, bukan kepada Walikota Rasyid Bancin yang baru seumur jagung menjabat.Seperti tamsilan, ada orang yang menanam pohon durian, merawatnya bertahun-tahun, lalu saat pohon itu berbuah lebat, orang lain datang membawa keranjang dan berteriak, "Ini hasil kerja keras saya!"
Bahkan jika Rasyid Bancin ingin membela diri dengan alasan "saya menerima estafet kepemimpinan," secara etika birokrasi dan statistik.
"klaim pencapaian atas kinerja di tahun 2022-2024 adalah bentuk penyesatan publik yang terlampau lugu" tegasnya.
Rasyid baru bisa mengklaim "keberhasilan" saat data PAD tahun 2025 dan 2026 (masa kepemimpinannya) keluar. Kalau data dari masa lalu dipakai, semua pejabat baru di Indonesia akan berlomba mengklaim pencapaian republik ini sejak tahun 1945.
Sikap "senang diumbang” Rasyid Bancin ini justru jenaka sekaligus menyegarkan. Layak menjadi bahan ketawa disaat kondisi Pemerintahannya memang sedang tidak baik-baik saja. Tidak perlu terlalu pintar untuk bisa cepat mengambil kesimpulan bahwa Walikota Rasyid Bancin dan timnya, bekerja keras agar potongan video paparan “apresiasi” dari Wamendagri Bima Arya, harus viral dan menjadi klaim keberhasilan pemerintahannya. Lihat saja postingan dan caption pada akun instagram @rasyidbancin.
"Mungkin ini strategi kepemimpinan ala Frugal Living: tidak perlu kerja keras membuat kebijakan, yang penting pandai klaim hasil kerja orang lain. Namun, untuk publik Subulussalam dan para pemangku kebijakan, kita tentu berharap kejujuran data bisa dijaga" lanjutnya.
Boleh saja Walikota Subulussalam Rasyid Bancin bangga karena berhasil “diengkol” Wamendagri di forum APEKSI. Tapi mari kita beri tepuk tangan yang adil: Tepuk tangan untuk Pendahulunya yang menanam, dan tepuk tangan bagi Rasyid Bancin karena kecepatannya mengklaim pencapaian orang lain tanpa malu-malu. Semoga di tahun-tahun sisa masa jabatannya bisa benar-benar melahirkan pertumbuhan PAD nyata.
[Effriani Simamora]