Serambi.WahanaNews.co, Subulussalam -
Rahmad, mahasiswa Fakultas FISIP Unimal, menilai tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa asal Subulussalam yang berkuliah di Universitas Indonesia, seperti Haekal dan rekan-rekannya, terkesan tidak fair dalam merespons persoalan yang dihadapi Kota Subulussalam selama tiga tahun terakhir.
"Seharusnya Haekal dan kawan-kawan melihat bahwa selama tiga tahun ini, Kota Subulussalam mengalami berbagai masalah serius seperti defisit anggaran yang membengkak, hak-hak para guru dan tenaga honorer yang tertahan, angka stunting tertinggi di Aceh, serta infrastruktur yang rusak parah. Mengapa mereka tidak pernah menggelar aksi di Jakarta untuk menyuarakan masalah-masalah ini? Justru hal ini menjadi alasan kuat kami menilai tindakan Haekal dan kawan-kawan terkesan tidak fair dan tidak memahami kondisi Subulussalam saat ini, bahkan terlihat seolah menguntungkan salah satu pasangan calon wali kota dan wakil wali kota periode 2024-2029," jelas Rahmad melalui keterangan tertulisnya kepada media pada Jumat (27/9/2024).
Baca Juga:
Pertamina Goes to Campus 2025 Siap Jelajahi Lebih dari 10 Kampus Ternama Indonesia
Rahmad berharap agar rekan-rekannya yang berkuliah di Universitas Indonesia dapat lebih peduli dan menyuarakan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat kecil.
"Jangan karena mereka masyarakat kecil, lantas dikesampingkan. Justru merekalah yang pantas kita tolong dan suarakan hak-haknya."
Rahmad juga menambahkan bahwa masyarakat Aceh menjunjung tinggi nilai-nilai Islami dan memiliki Qanun Aceh yang harus ditaati oleh seluruh warganya.
Baca Juga:
Gali Potensi Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Universitas Indonesia Gelar FGD SDGs di Kepulauan Seribu
"Saya berharap kepada seluruh mahasiswa, baik di dalam maupun di luar daerah, agar dapat mengesampingkan kepentingan pribadi dan fokus menyuarakan aspirasi masyarakat. Suara rakyatlah yang harus kita bantu sampaikan kepada pemerintah daerah maupun pusat," tutupnya.
[Redaktur: Amanda Zubehor]